<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Herianto's blogdetik</title>
	<atom:link href="http://herianto.blogdetik.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://herianto.blogdetik.com</link>
	<description>Corat-coret lagi - dimana dia menuliskan itu, kembali - di sini.</description>
	<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 23:53:53 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Politik Tuhan</title>
		<link>http://herianto.blogdetik.com/2009/01/06/politik-tuhan/</link>
		<comments>http://herianto.blogdetik.com/2009/01/06/politik-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 23:53:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herianto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herianto.blogdetik.com/2009/01/06/politik-tuhan/</guid>
		<description><![CDATA[Tuhanmu telah berpolitik untukmu
dengan
syariat-NYA, sunnah-NYA,  hukum-hukum-NYA
hukum di alam-NYA
hukum di firman-NYA
hukum di setiap kejadian pada ruang dan waktu milik-NYA
Adalah keputusan-NYA, undang-undang-NYA,
sunnatuLlah - syariat-NYA
Lalu
terserah engkau memilih atau tidak
karena setiap pilihan langkah, adalah resiko.
Di atas Kekuatan Politik Tuhanmu
itu
&#8212;
Saksikan, Tuhanmu Itu punberpolitik
Atas Kekuasaan
Di Kehendak-NYA
Yang demi keadilan, kebahagiaan, kesejahteraan dan kemenangan para hamba-hamba NYA, saja
&#8212;
Bukan untuk Dia NYA tentu
Politik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tuhanmu telah berpolitik untukmu</p>
<p>dengan</p>
<p>syariat-NYA, sunnah-NYA,  hukum-hukum-NYA</p>
<p>hukum di alam-NYA</p>
<p>hukum di firman-NYA</p>
<p>hukum di setiap kejadian pada ruang dan waktu milik-NYA</p>
<p>Adalah keputusan-NYA, undang-undang-NYA,</p>
<p>sunnatuLlah - syariat-NYA</p>
<p>Lalu</p>
<p>terserah engkau memilih atau tidak</p>
<p>karena setiap pilihan langkah, adalah resiko.</p>
<p>Di atas Kekuatan Politik Tuhanmu</p>
<p>itu</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Saksikan<img src="http://herianto.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" />, Tuhanmu Itu pun<span id="more-14"></span>berpolitik</p>
<p>Atas Kekuasaan</p>
<p>Di Kehendak-NYA</p>
<p>Yang demi keadilan, kebahagiaan, kesejahteraan dan kemenangan para hamba-hamba NYA, saja</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Bukan untuk Dia NYA tentu</p>
<p>Politik Tuhanmu adalah</p>
<p>Dari-NYA, Karena-NYA</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Selanjutnya terserah dirimu.</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herianto.blogdetik.com/2009/01/06/politik-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kemenangan ini, milik kita [bersama]</title>
		<link>http://herianto.blogdetik.com/2008/10/06/kemenangan-ini-milik-kita-bersama/</link>
		<comments>http://herianto.blogdetik.com/2008/10/06/kemenangan-ini-milik-kita-bersama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 09:34:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herianto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herianto.blogdetik.com/2008/10/06/kemenangan-ini-milik-kita-bersama/</guid>
		<description><![CDATA[Kebanyakan kita cuma merasa berperan  pada keberhasilan (kemenangan) saja, tetapi justru merasa (mengakunya) sebagai pengamat (pihak luar, oposisi, pengkritik, pelengkap penderita) kalau terjadi kegagalan.
—
Misal, bayangkan seperti ini :
Apa yang terjadi jika ummat ini (Islam) pada suatu ketika mengalami kemajuan yang cukup berarti. Berdasarkan logika di atas maka setiap kelompok dan pribadi sepertinya akan merasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Kebanyakan kita cuma merasa berperan </em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>pada keberhasilan (kemenangan) saja, tetapi justru merasa (mengakunya) sebagai pengamat (pihak luar, oposisi, pengkritik, pelengkap penderita) kalau terjadi kegagalan.</em></strong></p>
<p align="center">—</p>
<p>Misal, bayangkan seperti ini :</p>
<p>Apa yang terjadi jika ummat ini (Islam) pada suatu ketika mengalami kemajuan yang cukup berarti. Berdasarkan logika di atas maka setiap kelompok dan pribadi sepertinya akan merasa lebih berperan. “<em>Itu karena kami, yang itu karena saya</em>“.</p>
<p>Sebaliknya,<span id="more-13"></span></p>
<p>Perhatikan saat ummat terpuruk seperti sekarang. Banyak yang berkata,”<em>Itu salah kalian, Itu karena kamu, karena dia, karena mereka</em>“.  Wuuu…. puh …:(</p>
<p>Apa ini karena fitrah manusia itu ya ? Yang katanya cenderung terdorong pada setiap kebaikan (dalam hal ini keberhasilan/kemenangan), dan menjauh (mengelak) pada setiap keburukan (dalam hal ini kegagalan/keterpurukan). Bisa ya, bisa tidak.</p>
<p align="center">—</p>
<p><strong>Proses</strong></p>
<p>Tentu kita sudah pada tahu bahwa yang diminta dari kita adalah usaha atau proses-nya bukan hasil akhirnya. Bukankah hasil akhir itu adalah Hak (Taqdir) - NYA. Kita hanya diminta untuk berusaha secara optimal untuk membawa pada hasil (ideal) yang diharapkan ?</p>
<p>Itu saja kan ?</p>
<p align="center">—</p>
<p><strong>Negeri kita</strong></p>
<p>Seperti itu juga karakter di negeri kita ini.</p>
<p>Saat bangsa ini terpuruk dan terseok-seok seperti sekarang kebanyakan mengelak kalau itu terjadi akibat keterlibatan kita juga. Perhatikan, semua mengaku cuma semacam pengamat saja. “<em>Itu karena kalian, itu karena kamu</em>“. Yah, yang tadi itu.</p>
<p>Cobalah nanti saat negeri ini mencapai keberhasilannya.</p>
<p>Cobalah.</p>
<p>Apakah kita juga merasa telah terlibat dalam mencapainya ?</p>
<p>Terlibat ?</p>
<p>Sekarang atau nanti-nanti ?</p>
<p>Puh.</p>
<p align="center">—</p>
<p>Cuma keberhasilan dan kemenangan saja kah milik kita bersama ?</p>
<p>Sementara kegagalan adalah milik orang-orang.</p>
<p>—</p>
<p>Mana mending ?</p>
<p>Terlibat tapi masih gagal</p>
<p>atau</p>
<p>tak terlibat dan tetap gagal.</p>
<p>Tentu,</p>
<p>Mending terlibat walau gagal.</p>
<p>. . .</p>
<p>. . .</p>
<p>Tapi,</p>
<p>lebih mending terlibat lalu berhasil kan ? <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=")" /></p>
<p align="center">—</p>
<p>Mmm,</p>
<p>Selalu ada momen untuk merayakan kemenangan.</p>
<p>Merayakan kemenangan dari hawa nafsu.</p>
<p>Itu pun kalo terlibat.</p>
<p>Terlibat memeranginya. <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif" alt=";)" /></p>
<p>Terlibatlah !</p>
<p>Agar benar merayakan kemenangan, kita.</p>
<p>Selamat idul fitri 1429 H.</p>
<p>Mohon ma&#8217;af lahir an batin.</p>
<p><font color="#ffffff">—</font></p>
<address>—————<br />
</address>
<address><strong>Keyword</strong> : <em>Terlibat</em>.</address>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herianto.blogdetik.com/2008/10/06/kemenangan-ini-milik-kita-bersama/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Meta Hipokrit Politisi Kita</title>
		<link>http://herianto.blogdetik.com/2008/09/05/meta-hipokrit-politisi/</link>
		<comments>http://herianto.blogdetik.com/2008/09/05/meta-hipokrit-politisi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 07:32:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herianto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herianto.blogdetik.com/2008/09/05/meta-hipokrit-politisi/</guid>
		<description><![CDATA[Meta hipokrit :
&#8212;
“Orang yang benar-benar  ‘baik’  itu tidak ada. Itu hanya ada pada kisah-kisah di kitab suci, hanya ada di omongan2 para ustadz/ulama/moralis, atau sekedar cerita yang didongengkan di masa kecil sebelum tidur“, Katanya.
—
Apa itu meta hipokrit ?
Meta hipokrit [secara sepihak] melalui postingan ini dimaknai sebagai sebuah karakter  yang selalu mengira bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meta hipokrit :</p>
<p align="center">&#8212;</p>
<p><strong>“<font color="#999999">Orang yang benar-benar  ‘baik’  itu tidak ada. Itu hanya ada pada kisah-kisah di kitab suci, hanya ada di omongan2 para ustadz/ulama/moralis, atau sekedar cerita yang didongengkan di masa kecil sebelum tidur</font><em>“</em>, <font color="#0000ff"><font color="#000000">Katanya</font><em>.</em></font></strong></p>
<p align="center">—</p>
<p>Apa itu meta hipokrit ?</p>
<p><em>Meta hipokrit [secara sepihak] melalui postingan ini dimaknai sebagai sebuah karakter  yang selalu mengira bahwa kebaikan yang sebenarnya itu tidak ada pada prakteknya di kehidupan ini. Akibatnya tentu, orang2 seperti ini kbanyakan pun  memang <u>benar2 tidak mampu</u> menerapkan nilai2 kbaikan itu di kehidupannya sendiri.</em></p>
<p>Ini pun merambah ke politisi kita.</p>
<p align="center">&#8212;</p>
<p>“Tidak mungkin ada orang <span id="more-12"></span>yang <a href="http://herianto.wordpress.com/2007/05/01/ikhlas-2-dan-komitmen-kita/">melakukan sesuatu tanpa pamrih</a>, tanpa dalih, [atau tanpa] demi menguntungkan kehidupan [dunia] nya”, <strong>Katanya</strong>.</p>
<p>“Tidak mungkin ada orang yang berjuang yang dananya di keruk dari kantongnya sendiri2, itu cuma omongan2 demi mengangkat citra diri komunitasnya semata”, <strong>Katanya</strong>.</p>
<p>“Tidak mungkin ada orang yang berjuang benar-benar [murni] karena Islam, itu cuma gembar-gembor aja untuk memperalat agama demi menaikkan simpati masa”, <strong>Katanya</strong>.</p>
<p>“Mana mungkin dia mempopulerkan kelompok atau partai-nya kemana2, menempel stiker, spanduk dimana2, memperkenalkan citra baiknya di/ke mana bisa, kalo tidak karena ada apa2 nya, kalo tidak karena ada upah duitnya, kalo tidak karena …, kalo tidak karena …, kalo tidak karena …, katakanlah karena berharap nanti2 bisa jadi anggota perlemen, yang peluang masuk duitnya lumayan besar, atau karena…, atau karena …”, <strong>Katanya</strong>.</p>
<p>“Mana mungkin orang mau bekerja dan/atau memilih orang2 untuk diminta bekerja, kalo bukan karena uang, kalo bukan karena uang, kalo bukan karena uang”, <strong>Katanya.</strong></p>
<p>“Mana mungkin ada orang baek2 di jaman seperti ini…”, <strong>Katanya</strong>. ”Hare gene ngaku sebagai orang baek-baek ??!?”</p>
<p>“Mana ada <a href="http://herianto.wordpress.com/2007/04/23/ikhlas-memilih-tanpa-pilihan-mungkinkah/">cerita ikhlas</a>, cerita tanpa uang, cerita tanpa ‘gila’ kekuasaan atau cerita tanpa ‘gila’ perempuan, atau tanpa gila-gila-an ‘laen-nya’, di jaman gila ini”, <strong>Katanya</strong>.</p>
<p>Teriakan-teriakan di atas hanyalah sekelumit contoh dari merebaknya fenomena <strong><em>meta hipokrit</em></strong> di sekitar kita.<strong> </strong></p>
<p><strong>Prasangka</strong></p>
<p>Sebenarnya kalo mau, kita bisa menilai kualitas (ruhiyah, spiritual) diri sendiri melalui ”kadar” prasangka yang sedang dimiliki. Seperti kata-NYA, ”<strong>Aku seperti apa yang kau sangka tentang AKU</strong>“. Di kalangan sufi beredar cerita tentang seseorang yg ter-vonis ”neraka” berdasarkan hasil proses “aplikasi hisab versi 4kh1r4t”. Kemudian dia ditanya,”Lalu menurutmu apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirimu ?” Si seseorang tadi menjawab,”Engkau pasti akan mema’afkan aku dan memasukkan aku ke surga Mu”. Dan akhirnya ia benar2 dimasukkan ke komunitas surga berdasarkan prasangka baiknya tersebut.</p>
<p>Tapi, semudah itukah untuk masuk ke surga ? Ini tentu ada penjelasan komprehensifnya. Inti pesannya adalah, prasangka baik itu perlu dan kepentingannya adalah untuk kita sendiri.</p>
<p>Kita tidak dilarang berprasangka, bahkan berprasangka adalah bagian dari prilaku “fitrah” yang tak adil kalau itu sekiranya dilarang. Seperti kita juga tidak dilarang atas prilaku fitrah yg lainnya semacam : gusar, cemas, takut dan seterusnya. Yang diminta dari kita adalah manajemen atas itu semua. Manajemen prasangka, manajemen gusar, cemas dan takut yang kita miliki harus berorientasi pada standarisasi yang digariskan-NYA, yakni : ridha-NYA.</p>
<p>Dalam kaitan ini, manajemen prasangka yang dianjurkan-NYA adalah : kita harus lebih condong kepada prasangka baik (husnudzan) ketimbang prasangka buruk (su’udzon) atas sesama. Sebuah anjuran sederhana, tapi jangan kira mudah menguasainya. Butuh ilmu, latihan dan kearifan.</p>
<p>Berprasangka baik pada siapa ?</p>
<p>Berprasangka baik pada orang2 yang tidak ada larangan untuk berprasangka baik padanya.</p>
<p><strong>Akibatnya  </strong></p>
<p>Akibat dari prasangka buruk yang menyimpang adalah : <a href="http://herianto.wordpress.com/2007/06/17/saat-dirimu-melakukan-maksiat/">kita akan terdorong</a> untuk melakukan apa yang kita pra sangka buruk-i itu.</p>
<p>Contoh-contoh :</p>
<p><strong>Kenapa ada orang yg [tega2nya] korupsi ?</strong> Salah satunya adalah karena dia mengira semua orang di sekitarnya korupsi. Dia mengira “MUNAFIK” kalo sekiranya ada orang2 yang ngaku tidak akan korupsi.</p>
<p><strong>Kenapa anda berbohong ?</strong> Karena anda mengira berbohong itu biasa2 aja. Anda mengira berbohong itu adalah strategi semua orang untuk berkelit dari [cara mnutupi]  klemahan2 kualitas diri. Eh, bukan kualitas diri yang diperbaiki, tapi malahan keluasan ragam (<strong>keragaman</strong>) berbohong yang dikantongi.</p>
<p><strong>Kenapa mereka berzina, kenapa mereka berselingkuh</strong> ? Ya sama, karena itu. Karena mereka mengira orang2 laen juga pada berzina atau selingkuh itu.</p>
<p><strong>Kenapa mereka minta uang untuk sekedar [mau] berkoalisi, </strong>kenapa mereka mengira “hidung” kita tersedoti pundi2 <a href="http://herianto.wordpress.com/2007/04/09/adang-daradjatun-edisi-%e2%80%9csiapa-dia-%e2%80%9c-3/">waktu memilih</a> ? Ya penyebabnya juga sama.</p>
<p><strong>Kenapa mereka berteriak, “</strong><a href="http://herianto.wordpress.com/2007/04/12/politik-dan-%e2%80%9ckotoran%e2%80%9d-itu/">Politik itu kotor</a> ? Berkata,”Awas, pinggir, pinggir, moral dan agama di larang masuk…<strong>“.</strong><strong>  </strong></p>
<p><strong>Kenapa kita mengira semua orang pada brengsek</strong>, yg menggiring kita pun menjadi brengsek…</p>
<p><strong>Kenapa ada yg tidak shalat ? </strong></p>
<p><strong>Kenapa kita santai2 saja ?</strong></p>
<p><strong>Kenapa kita mesti <a href="http://herianto.wordpress.com/2007/04/16/politik-dan-%e2%80%9ckesucian%e2%80%9d-itu/">apatis</a>, “</strong>Ah bodo ah, emang gue pikiran?<strong>“</strong></p>
<p>Karena kita mengira dan mengira bahwa seolah-olah :</p>
<p align="center"><strong>“Tidak ada lagi peluang kebaikan di dunia ini”</strong></p>
<p>Coba tanya, kenapa ?</p>
<p align="center">—</p>
<p>Aku kasihan aja, kalo sekira itu adalah, masih kita-kita juga .</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herianto.blogdetik.com/2008/09/05/meta-hipokrit-politisi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Islam : Antara simbol dan substansi</title>
		<link>http://herianto.blogdetik.com/2008/09/02/islamku-islammu-islam-kita/</link>
		<comments>http://herianto.blogdetik.com/2008/09/02/islamku-islammu-islam-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 05:46:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herianto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herianto.blogdetik.com/2008/09/02/islamku-islammu-islam-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Edisi : Kembali 
&#8212;
Mencari irisan di antara dimensi simbol dan substansi  
Dari dialog dengan seorang [pengaku] muslim [tapi] minus amal.
(1) Muslim minus shalat
Tanya : Kenapa anda meninggalkan shalat ?
Jawabnya : Karena substansi dari shalat adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ketika saya mampu mencegah diri saya dari perbuatan keji dan mungkar, maka untuk apa lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Edisi : Kembali </strong></em></p>
<p align="center">&#8212;</p>
<p><strong>Mencari irisan di antara <em>dimensi simbol</em> dan <em>substansi</em>  </strong></p>
<p>Dari dialog dengan seorang [pengaku] muslim [tapi] minus amal.</p>
<p><strong>(1) Muslim minus shalat</strong></p>
<p><strong>Tanya </strong>: Kenapa anda meninggalkan shalat ?</p>
<p><strong><em>Jawabnya </em></strong>: <em>Karena substansi dari shalat adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ketika saya mampu mencegah diri saya dari perbuatan keji dan mungkar, maka untuk apa lagi saya shalat ? </em><em>Bahkan saya menyaksikan mereka2 yang shalat kebanyakan tidak mampu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar tersebut ?</em></p>
<p><strong>(2) Muslim minus shalat</strong>, lagi<strong> </strong></p>
<p><strong>Tanya</strong> :  Kenapa anda meninggalkan shalat, bukankah Rasulullah mengajarkan kita untuk shalat ?</p>
<p><strong><em>Jawabnya </em></strong>:   <em>Pernyataan anda sangat literal/tekstual kawan, substansi dari diutusnya rasulullah adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Waktu itu memang ada sebagian orang arab di Mekkah yang dianggap hanif (berakhlak baik) yg melakukan tradisi [ritual] shalat.  Lalu antara tradisi shalat dan akhlak yang baik ini diasosiasikan sedemikian untuk mengarah ke target perbaikan akhlak tadi. Kalo dengan tanpa (simbol) shalat kita bisa menjamin memiliki akhlak yg baik, lalu kenapa simbol-simbol masa lalu itu yang lebih dipertahankan ?</em></p>
<p><strong>(3) Muslimah minus jilbab</strong></p>
<p><strong>Tanya</strong> :  Kenapa anda sebagai muslimah tidak berjilbab ? Bukankah Al Qur’an mengajarkan anda untuk menutup aurat di hadapan muhrimnya ?</p>
<p><strong><em>Jawabnya  </em></strong>: <em>Jika dieksplor lebih jauh sesungguhnya substansi dari kewajiban menutup aurat dari al qur’an sendiri adalah agar [muslimah] lebih mudah dikenal [sebagai identitas] dan dapat menjaga diri. Di jaman sekarang masalah identitas dan penjagaan diri itu sudah tidak relevan lagi. Apalagi jilbab itu kan kebiasaan kaum wanita di arab sana.</em></p>
<p align="center"><em>—</em></p>
<p><strong>Konsekuensi logis <span id="more-10"></span>atas prinsip pemahaman di atas adalah :</strong></p>
<ul>
<li>Kenapa anda tidak puasa ? <em>Karena substansi</em><!--more--><em> dari puasa adalah pengendalian diri dari hawa nafsu. Saya [bahkan] bisa lebih mengendalikan hawa nafsu dengan tanpa berpuasa ketimbang mereka2 yang sibuk dengan [simbolik] puasa tersebut.</em></li>
<li>Kenapa untuk masalah moral anda tidak mengacu ke tradisi Islam ? <em>Karena tradisi Islam lahir dari histori dan sejumlah parameter lain, dan ini semua sesungguhnya adalah bersifat simbolik saja. Substansi dari moral adalah standarisasi kebaikan berdasarkan zamannya. “Moral itu dinamis bung”, katanya. Kenapa kita mesti mengacu ke standar moral zaman doeloe (tentu jaman rasulullah maksudnya).</em></li>
<li>Kenapa anda menganggap remeh dengan [kewajiban-kewajiban literal/tekstual] agama ? <em>Karena substansi dari keberadaan agama adalah [semata sarana] kebaikan kehidupan di dunia ini. Sekarang kaidah [pedoman hidup] kehidupan modern jauh lebih hebat dari pada dogma2 agama dalam mengarahkan manusia untuk menjalani hidup dengan lebih baik. Malah orang2 yang beragama kebanyakan merusak tata kehidupan ini dengan fanatismenya.</em></li>
</ul>
<p>……….. cukup panjang jika dialog semacam ini diteruskan.</p>
<p align="center">—</p>
<p><strong><u>INTI dari dialog di atas [sepertinya] adalah :</u></strong></p>
<p>Begitu kita tersadar bahwa ternyata SUBSTANSI itu jauh lebih penting dari SIMBOL, maka dengan serta merta ketersadaran ini mengeluarkan <strong>energi impuls</strong> dari diri kita, lalu <strong>bergegas</strong> berkesimpulan :</p>
<p align="center"><em>Buang semua simbol-simbol Islam, peras nilai2 di simbol2 tersebut untuk mendapatkan [saripati] substansinya ! </em></p>
<p>Bahkan seakan-akan berkata,</p>
<p align="center">“<em>Mari kita mulai Islam dari substansinya saja dan ciptakan simbol-simbol yang baru yang sesuai jamannya [sekarang] !</em>“</p>
<p align="center">—</p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p align="left"><strong>BENAR - SALAH</strong></p>
<p>Kita sering kebablasan.</p>
<p>Barangkali premis yg digunakan adalah pernyataan : “SUBSTANSI lebih penting dari SIMBOL”. Premis ini bisa saja BENAR. Tetapi meneruskannya dengan kesimpulan bahwa segala yang berbau SIMBOL harus dimusnahkan, tentu SALAH. Apalagi kita sendiri belum mampu mengklasifikasikan dengan TAJAM yang mana dari ajaran-ajaran Islam yang dimaksud dengan SIMBOL dan yang mana yang termasuk SUBSTANSI.</p>
<p align="center">—</p>
<p><strong>IBADAH MAHDAH</strong></p>
<p>Seorang teman [yg sepertinya penganut, tetapi tidak mau disebut] liberal pernah berkata,”<em>Segala bentuk peribadahan (ritual) yang sudah jelas2 petunjuknya,  jangan lagi diutak-atik [oleh akal kita]. Tetapi aspek2 lain, silahkan saja, kita bebas bermain</em>“</p>
<p>Ketika saya mengkonfirmasi tentang apa yang dimaksudnya dengan ibadah ritual, maka dia menyebutkan seperti : shalat, puasa, zakat, dan haji. Itu sudah harga mati, katanya. Saya menyebutnya dengan ibadah mahdah (yang ritualnya telah dikhususkan : waktu dan caranya)</p>
<p>Saya tertarik dengan kata2 : .<em>..kita bebas bermain [pada sisi selain dari itu]</em>. Maksudnya tentu melakukan eksplorasi tanpa lagi perlu peduli dengan nash2 atau tuntunan dari Kitab dan/atau generasi sebelumnya.</p>
<p align="center">—</p>
<p><strong>Akal saja tidak cukup</strong></p>
<p>Jujur, saya suka &#8217;salut&#8217; dengan beberapa pemikiran teman [liberal] seperti yg tersebut di atas. Bahkan di masa kecil dan dewasa kami [sesungguhnya] selalu aktif berdiskusi masalah2 ilmu-keIslaman,  tentunya. Tapi kali ini kata2  “.<em>..kita bebas bermain [pada sisi selain dari itu]</em>” di atas, walau saya tafsir sendiri maksudnya, seperti ada yang belom “plong”.</p>
<p>Kenapa ?</p>
<p>Karena sampai sejauh ini saya tetap meyakini bahwa selain akal, kita juga punya hati dan ruh. Amalan2 kita jauh lebih mempengaruhi keyakinan dan kenyamanan kita ketimbang akal semata. Bahkan bukankah sebaiknya kita tetap melakukan satu amalan asal ada “nash” nya walau akal  masih bertanya2, “<strong>Itu untuk apa sih gunanya ?</strong>“.</p>
<p>Lalu, bagaimana jadinya dengan teman2 yang memvonis dirinya untuk tidak shalat, <u><strong>tidak puasa</strong></u>… dstnya, dengan argumen2 akal<s>[2]an</s> nya seperti di [paling] atas di atas.</p>
<p>Ketika saya sempat bertanya lagi,”Apakah anda masih shalat ?” Ia menjawab diplomatis,”Oh, masalah shalat itu urusan saya dengan Tuhan”. Bahkan katanya lagi dia merasa keikhlasannya terusik kalo mengiyakan keshalatannya.</p>
<p>Weleh, weleh, weleh… bablas angine.</p>
<p>Ketika batas2 ruang antara simbolik dan substansi itu belum matang, kita mudah kebablasan jadinya.</p>
<p><strong><em>Ihdinasysyirathalmustaqiim</em></strong>.</p>
<p>Amien.</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herianto.blogdetik.com/2008/09/02/islamku-islammu-islam-kita/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Politik dan Kesucian (itu) (?)</title>
		<link>http://herianto.blogdetik.com/2008/08/28/politik-dan-kesucian-itu/</link>
		<comments>http://herianto.blogdetik.com/2008/08/28/politik-dan-kesucian-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Aug 2008 12:39:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herianto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herianto.blogdetik.com/2008/08/28/politik-dan-kesucian-itu/</guid>
		<description><![CDATA[
Untuk sekedar disebut ‘suci’ kita tidak cukup hanya dengan berkata, “Saya tak suka politik”.  Sungguh, tidak cukup. Bukankah ini ‘malah’ menambah ‘fakta’, bahwa fenomena politik telah meng ‘gelincir’ kan banyak orang.
—
( “Etika” apalagi “agama” …, silahkan masuk, Ahlan wa sahlan !!!)
    
Begitulah …
Keinginan ‘suci’ adalah fitrah manusia, bahkan bukankah fitrah itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://herianto.wordpress.com/author/herianto/" title="Tulisan oleh Herianto"></a></p>
<p><strong>Untuk sekedar disebut ‘suci’ kita tidak cukup hanya dengan berkata, “<u>Saya tak suka politik</u>”.  Sungguh, tidak cukup. Bukankah ini ‘malah’ menambah ‘fakta’, bahwa fenomena politik telah meng ‘gelincir’ kan banyak orang.</strong></p>
<p align="center"><strong>—</strong></p>
<p><strong>( “Etika” apalagi “agama” …, silahkan masuk, Ahlan wa sahlan !!!)</strong></p>
<p><strong>    </strong></p>
<p><strong>Begitulah …</strong></p>
<p>Keinginan ‘suci’ adalah fitrah manusia, bahkan bukankah fitrah itu memang sering diasosiasikan dengan masalah ‘kesucian’, walaupun ini tidak cukup. Prilaku suci juga sering dikaitkan dengan para ‘sufi’, yaitu (konon) mereka yang mendekat pada Tuhan dengan cara ‘uzlah’, bergabung dengan tarekat atau yang semacamnya.</p>
<p>Ini bisa saja terinspirasi dari para nabi,<span id="more-7"></span> yang selalu memulai dari mengasingkan diri. Dan hidayah memang sering datang dari kesunyian, maksudnya tentu kontemplasi (lebih tepat ‘Tahajjud’, istilah untuk di masa kita). Tetapi, akuilah, entah bagaimana, ada-ada saja ‘pelaku sufi’ yang lupa daratan. Ibarat pelaut yang lupa mendarat, atau ‘petapa’ yang tak hendak turun gunung. Ini tentu ‘fenomena’ menarik untuk diperbincangkan.</p>
<p>Adalah rasulullah SAW pun melakukan pengasingan, di salah satu sudut kota Mekkah, gua Hira. Kita tentu sudah pada tahu, bahwa dari sanalah Al-Qur’an bermulai dan Islam kembali disyiarkan (kalimatnya, “Islam kembali disyiarkan”, “bukan mulai disyiarkan”, karena Islam sudah ada sejak Adam AS).</p>
<p>Inilah ‘fakta’ tak terbantahkan, bahwa Rasulullah SAW pun memulai dari kesunyian. Mengasingkan diri dari keramaian, dan menjauh dari riuhnya ‘pernik-pernik’ dunia kejahiliyahan. Banyak ahli tarikh menyatakan, “situasinya ‘mirip-mirip’ dengan ‘warna’ zaman sekarang”.</p>
<p>Sebagai rangkaian usaha ‘menguak’ fenomena ini, menarik sekali apa yang pernah disimpul-indahkan oleh Anis Matta dalam Tarbawi Edisi 154 tahun ini (2007), seperti berikut :</p>
<blockquote><p><em>“bahwa… ketenangan adalah syarat utama untuk menjadi manusia produktif. ……….<strong>ketenangan adalah cara menghemat energi, perenungan adalah cara menyerap energi, dan memberi adalah cara menyalurkan energ</strong>i”. </em></p></blockquote>
<p>Cukup indah dan penuh makna.</p>
<p>Lalu memberi …</p>
<p>Memberilah &#8230;</p>
<p>Kapan kita memberinya jika terlampau lama di penyerapan energi.</p>
<p>Terlibatlah di kehidupan nyata ini, tidak sekedar termenung dan berteriak di bilik-bilik yang dianggap suci.</p>
<p align="center">&#8212;</p>
<p><strong>Untuk sekedar disebut ‘suci’ kita tidak cukup hanya dengan berkata, “<u>Saya tak suka politik</u>”.  Sungguh, tidak cukup.</strong></p>
<p>Perlu keterlibatan nyata. <img src='http://herianto.blogdetik.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kotoran bukan untuk diteriaki, mari kita bersihkan.</p>
<p>Jangan biarkan <a href="http://herianto.blogdetik.com/2008/08/28/politik-dan-%E2%80%9Ckotoran%E2%80%9D-itu/">politik dan kotorannya itu</a>.</p>
<p><a href="http://herianto.wordpress.com/2007/04/12/politik-dan-%e2%80%9ckotoran%e2%80%9d-itu/" title="Politik dan 'Kotoran' (itu)"><strong><br />
</strong></a></p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herianto.blogdetik.com/2008/08/28/politik-dan-kesucian-itu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gunjing-hasut YES, Politik NO (?)</title>
		<link>http://herianto.blogdetik.com/2008/08/28/gunjing-hasut-yes-politik-no/</link>
		<comments>http://herianto.blogdetik.com/2008/08/28/gunjing-hasut-yes-politik-no/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Aug 2008 08:07:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herianto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herianto.blogdetik.com/2008/08/28/gunjing-hasut-yes-politik-no/</guid>
		<description><![CDATA[
27 April, 2007 oleh Herianto
—
Beberapa wacana terdahulu yang berkaitan dengan tema kali ini adalah, seperti : Islam Yes  Politik No, yang digulirkan oleh (alm) Nurcholis Madjid, lalu kemudian dijawab oleh sejumlah aktivis gerakan Islam dengan slogan : Islam Yes – Politik Yes. Di lapangan sesungguhnya terjadi juga prilaku yang mencerminkan penerapan slogan : Gunjing-hasut Yes [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><h2></h2>
<p>27 April, 2007 oleh <a href="http://herianto.wordpress.com/author/herianto/" title="Tulisan oleh Herianto">Herianto</a></p>
<p align="center">—</p>
<p>Beberapa wacana terdahulu yang berkaitan dengan tema kali ini adalah, seperti : Islam Yes  Politik No, yang digulirkan oleh (alm) Nurcholis Madjid, lalu kemudian dijawab oleh sejumlah aktivis gerakan Islam dengan slogan : Islam Yes – Politik Yes. Di lapangan sesungguhnya terjadi juga prilaku yang mencerminkan penerapan slogan : Gunjing-hasut Yes Politik No yang semestinya kita jawab dengan slogan : Gunjing-hasut NO, Politik why NOT. </p>
<p align="center">— </p>
<p>Begini, </p>
<p>Tak ada kita yang sudi disebut sebagai peng-gunjing atau peng-hasut, walau karakter ini kadang-kadang menjadi menu dan hidangan keseharian di sekitar kita, bahkan bisa saja itu kita sendiri (semoga tidak). Barangkali  jika dianalisa lebih lanjut karakter ini kebanyakan terjadi akibat kelemahan kita dalam menerapkan konsep manajemen ‘ber-prasangka’ secara benar dan profesional (ihsan). Padahal dari manajemen ‘ber-prasangka’ yang tidak benar tersebut jika di <em>follow-up</em> ke aktivitas pergunjingan dapat mengakibatkan ’mengalirnya’ dosa si ‘teraniaya’ ke pihak pelaku <em>untrue</em>-prasangka (su’udzon) dan ghibah-<em>er</em> (peng-ghibah) tersebut. Bagaimana kita tahu kalo<span id="more-6"></span> ternyata karakter itu adalah milik kita jika kita tak pernah ‘transparan’ meng-audit diri kita sendiri. Bagaimana kita mampu melihat diri kita sendiri, jika kita menjadi begitu lebih disibukkan menatapi orang lain di sekitar. Bahkan orang-orang yang sedemikian jauh jaraknya dari kita pun terkadang lebih mampu kita tatap ketimbang diri kita sendiri.  </p>
<p align="center">—</p>
<p align="center">
<p>Di sisi lain,</p>
<p>Fenomena politik, adalah fenomena yang ‘memuakkan’.<br />
Ada teman yang langsung,”U…oghk”, maksudnya mau muntah, begitu mendengar kata politik saja. Menyedihkan memang, akibat dari tingkah-polah badut-badut politik nasional, (dan juga) maupun lokal, prosedur sah sistem kenegaraan tersebut jadi ‘pecundang’.  Fenomena politik menjadi semakin memuakkan ketika tidak semua aspirasi atau keinginan politik orang per orang dapat tersalurkan. Ada juga fenomena politik baginya ibarat monster, ada yang gara-gara ‘jagoan’ politiknya ‘pulang kandang’, atau dari efek negatif pengelompokan, atau kurangnya waktu untuk menambah wawasan yang benar, atau ….Intinya. Fenomena politik di era kita, sama saja dengan kata “seree….m”. Atau ditanggapi dengan kata,”Bodo ah, … emang gue pikirin”.  </p>
<p align="center">—  </p>
<p><strong></strong><strong></strong></p>
<p><strong>Berkaca</strong></p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong></strong><strong></strong><strong></strong>Berkaca adalah satu kata yang ‘indah’, tetapi adakah setiap kita ‘hobi’ melakoninya. Barangkali ada diantara kita yang merasa ‘hobi’ dan dengan perkasa bisa saja berkata,”Saya telah introspeksi diri…”. Tetapi benarkah aktivitas ‘berkaca’ yang dilakukannya itu. Bolong-bolong apa di wajah yang ditemukan dari ‘berkaca’ tersebut dan adakah yang terlihat itu bolong yang sesungguhnya. Amatilah fakta ini, bahwa :Sesungguhnya prilaku kita dengan prilaku pelaku politik negarawan kita, seringkali tak berbeda. Ini fakta ….Ketika mereka-mereka beraksi di panggung politik negara, maka pada saat yang sama kita juga sesungguhnya pun beraksi juga di politik sekitar terdekat kita. Prilaku politik yang sama pun kita pertontonkan, walau dengan keras kita berkata,”Tida…k”. <u>Keburukan-keburukan <strong>tersirat</strong> apa yang sanggup kita duga tentang orang lain, sesungguhnya (seringkali) merupakan keburukan-keburukan dimana peluang kita besar untuk menjadi pelakunya</u>.</p>
<p>Kita tak ingin membela para ‘politikus’ yang tentu saja ada benarnya bahwa mereka kebanyakan ‘pecundang’, tapi…, kita tak menutup mata bahwa mereka berasal dari kita. Mereka adalah gambaran kita, maka : ketika kita menertawakan mereka, berteriak tentang tingkah-pola ‘memuakkan’ mereka, maka, jangan lupakan juga untuk meneriaki dan menertawakan kita sendiri. Kita adalah mereka dalam tampilan yang ter- ‘zoom’-kan. Mereka ber-politik di jalur global, dan kita (sementara masih atau cuma) di lokal. Perhatikanlah  tentang ini ke diri kita : Jangan katakan <strong><u>bukan politik</u></strong> ketika kita berjibaku mengatasi kelemahan-kelemahan sendiri di fenomena kerja, atau ketika melakukan sebar-sebar ‘isu’ pengelinciran pada proses capaian tujuan (misal jabatan). Sekali lagi jangan katakan itu bukan politik, karena kadar keilmuan kita bisa menjadi taruhan. Atau barangkali kita berkilah kalo itu kritik, mengingatkan, cuma strategi atau yang semacamnyalah. Tetapi bukankah itu sama dengan fenomena ‘tidak benarnya’ si petualang politik kenegaraan.<strong> </strong><strong> </strong></p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong></strong><strong><strong>Gunjing-Hasut NO, (bersih-bersih) Politik YES.</strong> </strong></p>
<p><strong></strong></p>
<p><strong></strong><strong>Jangan katakan jangan ! <br />
</strong></p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herianto.blogdetik.com/2008/08/28/gunjing-hasut-yes-politik-no/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Meta Politik</title>
		<link>http://herianto.blogdetik.com/2008/08/28/meta-politik/</link>
		<comments>http://herianto.blogdetik.com/2008/08/28/meta-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Aug 2008 07:54:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>herianto</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herianto.blogdetik.com/2008/08/28/meta-politik/</guid>
		<description><![CDATA[Ada teman yang cerita tentang istilah “Meta luka” yang ia terjemahkan dengan “luka di atas luka”. “Bisa dibayangkan…”, katanya, “Luka dikulit yang belum sembuh lalu digores lagi dengan luka baru tepat di atas luka itu, betapa sakitnya”. Gak kebayangkan ? Ok, kita lupakan aja tentang “Meta Luka”. Pedih…
Lepas dari  ”Meta Luka” adalagi lagi istilah  ”Meta politik”, yang jika mengutip dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><p>Ada teman yang cerita tentang istilah “Meta luka” yang ia terjemahkan dengan “luka di atas luka”. “Bisa dibayangkan…”, katanya, “Luka dikulit yang belum sembuh lalu digores lagi dengan luka baru tepat di atas luka itu, betapa sakitnya”. Gak kebayangkan ? Ok, kita lupakan aja tentang “Meta Luka”. Pedih…</p>
<p>Lepas dari  ”Meta Luka” adalagi<span id="more-3"></span> lagi istilah  ”Meta politik”, yang jika mengutip dari pengertian di atas maksudnya bisa menjadi “Politik di atas politik”. Mem-politiki “politik”.</p>
<p>Fenomena ini “sangat” terjadi di jaman (”edan”)  orang-orangnya Soeharto. “Politik” mereka “politiki” lagi dengan salah satu targetnya agar orang (rakyat) jadi pada takut dengan politik. Menyebarkan penyakit ‘politik-phobia’ ke tengah masyarakat. Kita tentu masih ingat bagaimana dulu dunia kampus di ‘gencet’ (di-program-paksa) agar tidak ikut-ikutan ‘bermain’ politik, yaitu melalui “Normalisasi Kampus”, yang istilah halusnya <em>back to</em> kampus. Kemudian jumlah ’partisan’ politik pun dibatas-batasi sehingga yang “legal” cuma golkar dan partai pelengkapnya. Fungsi agama  ditekan ’sedemikian’ sehingga politik atas nama agama di “tabu” kan.  Dan seterusnya…</p>
<p>Ironis memang. Kita seperti dilarang pintar…</p>
<p>Ini memang ironis, tetapi lebih ironis lagi jika di zaman seperti sekarang ini masih ada pihak yang mencoba mengembalikan kita ke kondisi seperti itu lagi. Melakukan “Meta Politik” …</p>
<p>Berpolitik dengan menakut-nakuti rakyat terhadap politik, atau menjadikan rakyat “acuh” terhadap politik, atau mencuci tangan sendiri setelah ia berdarah-darah dan kalah di pertempuran politik…</p>
<p>Lebih ironis lagi ketika istilah “politik menghalalkan segala cara” dilegalkan dengan gumaman,”Itulah politik”.</p>
<p>Itukah politik ? Adakah politik memang menghalalkan segala cara ? Jawabannya : “Ya” dan ‘Tidak”. Sama dengan pertanyaan masalah berbisnis,” Adakah untuk berbisnis kita harus berani bermain curang ?” Jawabannya juga “Ya” dan “Tidak”.  Di setiap aktivitas kehidupan, pilihan hitam dan putih itu selalu ada. Kitalah yang memilih, akan melakukannya melalui jalur “hitam” atau jalur “putih”.</p>
<p>Dahulu kita telah terluka, melalui “pembodohan” pemahaman politik atau tentang kemestian keterlibatan kita dalam sistem pengaturan negara ini. Haruskah kini luka itu digores kembali, padahal luka yang lalu saja belum tersembuhkan. Haruskah ”luka di atas luka” itu terjadi pada diri kita ? Bukankah itu Pedih … ? (Herianto, 2007)</p>
</fieldset>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herianto.blogdetik.com/2008/08/28/meta-politik/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 0.599 seconds -->

