Meta Hipokrit [Politisi] Kita

5 Sep 2008

Meta hipokrit :

Orang yang benar-benar baik itu tidak ada. Itu hanya ada pada kisah-kisah di kitab suci, hanya ada di omongan2 para ustadz/ulama/moralis, atau sekedar cerita yang didongengkan di masa kecil sebelum tidur, Katanya.

Apa itu meta hipokrit ?

Meta hipokrit [secara sepihak] melalui postingan ini dimaknai sebagai sebuah karakter yang selalu mengira bahwa kebaikan yang sebenarnya itu tidak ada pada prakteknya di kehidupan ini. Akibatnya tentu, orang2 seperti ini kbanyakan pun memang benar2 tidak mampu menerapkan nilai2 kbaikan itu di kehidupannya sendiri.

Ini pun merambah ke politisi kita.

Tidak mungkin ada orang yang melakukan sesuatu tanpa pamrih, tanpa dalih, [atau tanpa] demi menguntungkan kehidupan [dunia] nya, Katanya.

Tidak mungkin ada orang yang berjuang yang dananya di keruk dari kantongnya sendiri2, itu cuma omongan2 demi mengangkat citra diri komunitasnya semata, Katanya.

Tidak mungkin ada orang yang berjuang benar-benar [murni] karena Islam, itu cuma gembar-gembor aja untuk memperalat agama demi menaikkan simpati masa, Katanya.

Mana mungkin dia mempopulerkan kelompok atau partai-nya kemana2, menempel stiker, spanduk dimana2, memperkenalkan citra baiknya di/ke mana bisa, kalo tidak karena ada apa2 nya, kalo tidak karena ada upah duitnya, kalo tidak karena , kalo tidak karena , kalo tidak karena , katakanlah karena berharap nanti2 bisa jadi anggota perlemen, yang peluang masuk duitnya lumayan besar, atau karena, atau karena , Katanya.

Mana mungkin orang mau bekerja dan/atau memilih orang2 untuk diminta bekerja, kalo bukan karena uang, kalo bukan karena uang, kalo bukan karena uang, Katanya.

Mana mungkin ada orang baek2 di jaman seperti ini, Katanya. Hare gene ngaku sebagai orang baek-baek ??!?

Mana ada cerita ikhlas, cerita tanpa uang, cerita tanpa gila kekuasaan atau cerita tanpa gila perempuan, atau tanpa gila-gila-an laen-nya, di jaman gila ini, Katanya.

Teriakan-teriakan di atas hanyalah sekelumit contoh dari merebaknya fenomena meta hipokrit di sekitar kita.

Prasangka

Sebenarnya kalo mau, kita bisa menilai kualitas (ruhiyah, spiritual) diri sendiri melalui kadar prasangka yang sedang dimiliki. Seperti kata-NYA, Aku seperti apa yang kau sangka tentang AKU. Di kalangan sufi beredar cerita tentang seseorang yg ter-vonis neraka berdasarkan hasil proses aplikasi hisab versi 4kh1r4t. Kemudian dia ditanya,Lalu menurutmu apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirimu ? Si seseorang tadi menjawab,Engkau pasti akan memaafkan aku dan memasukkan aku ke surga Mu. Dan akhirnya ia benar2 dimasukkan ke komunitas surga berdasarkan prasangka baiknya tersebut.

Tapi, semudah itukah untuk masuk ke surga ? Ini tentu ada penjelasan komprehensifnya. Inti pesannya adalah, prasangka baik itu perlu dan kepentingannya adalah untuk kita sendiri.

Kita tidak dilarang berprasangka, bahkan berprasangka adalah bagian dari prilaku fitrah yang tak adil kalau itu sekiranya dilarang. Seperti kita juga tidak dilarang atas prilaku fitrah yg lainnya semacam : gusar, cemas, takut dan seterusnya. Yang diminta dari kita adalah manajemen atas itu semua. Manajemen prasangka, manajemen gusar, cemas dan takut yang kita miliki harus berorientasi pada standarisasi yang digariskan-NYA, yakni : ridha-NYA.

Dalam kaitan ini, manajemen prasangka yang dianjurkan-NYA adalah : kita harus lebih condong kepada prasangka baik (husnudzan) ketimbang prasangka buruk (suudzon) atas sesama. Sebuah anjuran sederhana, tapi jangan kira mudah menguasainya. Butuh ilmu, latihan dan kearifan.

Berprasangka baik pada siapa ?

Berprasangka baik pada orang2 yang tidak ada larangan untuk berprasangka baik padanya.

Akibatnya

Akibat dari prasangka buruk yang menyimpang adalah : kita akan terdorong untuk melakukan apa yang kita pra sangka buruk-i itu.

Contoh-contoh :

Kenapa ada orang yg [tega2nya] korupsi ? Salah satunya adalah karena dia mengira semua orang di sekitarnya korupsi. Dia mengira MUNAFIK kalo sekiranya ada orang2 yang ngaku tidak akan korupsi.

Kenapa anda berbohong ? Karena anda mengira berbohong itu biasa2 aja. Anda mengira berbohong itu adalah strategi semua orang untuk berkelit dari [cara mnutupi] klemahan2 kualitas diri. Eh, bukan kualitas diri yang diperbaiki, tapi malahan keluasan ragam (keragaman) berbohong yang dikantongi.

Kenapa mereka berzina, kenapa mereka berselingkuh ? Ya sama, karena itu. Karena mereka mengira orang2 laen juga pada berzina atau selingkuh itu.

Kenapa mereka minta uang untuk sekedar [mau] berkoalisi, kenapa mereka mengira hidung kita tersedoti pundi2 waktu memilih ? Ya penyebabnya juga sama.

Kenapa mereka berteriak, Politik itu kotor ? Berkata,Awas, pinggir, pinggir, moral dan agama di larang masuk.

Kenapa kita mengira semua orang pada brengsek, yg menggiring kita pun menjadi brengsek

Kenapa ada yg tidak shalat ?

Kenapa kita santai2 saja ?

Kenapa kita mesti apatis, Ah bodo ah, emang gue pikiran?

Karena kita mengira dan mengira bahwa seolah-olah :

Tidak ada lagi peluang kebaikan di dunia ini

Coba tanya, kenapa ?

Aku kasihan aja, kalo sekira itu adalah, masih kita-kita juga .


TAGS Politik


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post