Islam : Antara simbol dan substansi

2 Sep 2008

Edisi : Kembali

Mencari irisan di antara dimensi simbol dan substansi

Dari dialog dengan seorang [pengaku] muslim [tapi] minus amal.

(1) Muslim minus shalat

Tanya : Kenapa anda meninggalkan shalat ?

Jawabnya : Karena substansi dari shalat adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ketika saya mampu mencegah diri saya dari perbuatan keji dan mungkar, maka untuk apa lagi saya shalat ? Bahkan saya menyaksikan mereka2 yang shalat kebanyakan tidak mampu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar tersebut ?

(2) Muslim minus shalat, lagi

Tanya : Kenapa anda meninggalkan shalat, bukankah Rasulullah mengajarkan kita untuk shalat ?

Jawabnya : Pernyataan anda sangat literal/tekstual kawan, substansi dari diutusnya rasulullah adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Waktu itu memang ada sebagian orang arab di Mekkah yang dianggap hanif (berakhlak baik) yg melakukan tradisi [ritual] shalat. Lalu antara tradisi shalat dan akhlak yang baik ini diasosiasikan sedemikian untuk mengarah ke target perbaikan akhlak tadi. Kalo dengan tanpa (simbol) shalat kita bisa menjamin memiliki akhlak yg baik, lalu kenapa simbol-simbol masa lalu itu yang lebih dipertahankan ?

(3) Muslimah minus jilbab

Tanya : Kenapa anda sebagai muslimah tidak berjilbab ? Bukankah Al Quran mengajarkan anda untuk menutup aurat di hadapan muhrimnya ?

Jawabnya : Jika dieksplor lebih jauh sesungguhnya substansi dari kewajiban menutup aurat dari al quran sendiri adalah agar [muslimah] lebih mudah dikenal [sebagai identitas] dan dapat menjaga diri. Di jaman sekarang masalah identitas dan penjagaan diri itu sudah tidak relevan lagi. Apalagi jilbab itu kan kebiasaan kaum wanita di arab sana.

Konsekuensi logis atas prinsip pemahaman di atas adalah :

  • Kenapa anda tidak puasa ? Karena substansi dari puasa adalah pengendalian diri dari hawa nafsu. Saya [bahkan] bisa lebih mengendalikan hawa nafsu dengan tanpa berpuasa ketimbang mereka2 yang sibuk dengan [simbolik] puasa tersebut.
  • Kenapa untuk masalah moral anda tidak mengacu ke tradisi Islam ? Karena tradisi Islam lahir dari histori dan sejumlah parameter lain, dan ini semua sesungguhnya adalah bersifat simbolik saja. Substansi dari moral adalah standarisasi kebaikan berdasarkan zamannya. Moral itu dinamis bung, katanya. Kenapa kita mesti mengacu ke standar moral zaman doeloe (tentu jaman rasulullah maksudnya).
  • Kenapa anda menganggap remeh dengan [kewajiban-kewajiban literal/tekstual] agama ? Karena substansi dari keberadaan agama adalah [semata sarana] kebaikan kehidupan di dunia ini. Sekarang kaidah [pedoman hidup] kehidupan modern jauh lebih hebat dari pada dogma2 agama dalam mengarahkan manusia untuk menjalani hidup dengan lebih baik. Malah orang2 yang beragama kebanyakan merusak tata kehidupan ini dengan fanatismenya.

.. cukup panjang jika dialog semacam ini diteruskan.

INTI dari dialog di atas [sepertinya] adalah :

Begitu kita tersadar bahwa ternyata SUBSTANSI itu jauh lebih penting dari SIMBOL, maka dengan serta merta ketersadaran ini mengeluarkan energi impuls dari diri kita, lalu bergegas berkesimpulan :

Buang semua simbol-simbol Islam, peras nilai2 di simbol2 tersebut untuk mendapatkan [saripati] substansinya !

Bahkan seakan-akan berkata,

Mari kita mulai Islam dari substansinya saja dan ciptakan simbol-simbol yang baru yang sesuai jamannya [sekarang] !

 

BENAR - SALAH

Kita sering kebablasan.

Barangkali premis yg digunakan adalah pernyataan : SUBSTANSI lebih penting dari SIMBOL. Premis ini bisa saja BENAR. Tetapi meneruskannya dengan kesimpulan bahwa segala yang berbau SIMBOL harus dimusnahkan, tentu SALAH. Apalagi kita sendiri belum mampu mengklasifikasikan dengan TAJAM yang mana dari ajaran-ajaran Islam yang dimaksud dengan SIMBOL dan yang mana yang termasuk SUBSTANSI.

IBADAH MAHDAH

Seorang teman [yg sepertinya penganut, tetapi tidak mau disebut] liberal pernah berkata,Segala bentuk peribadahan (ritual) yang sudah jelas2 petunjuknya, jangan lagi diutak-atik [oleh akal kita]. Tetapi aspek2 lain, silahkan saja, kita bebas bermain

Ketika saya mengkonfirmasi tentang apa yang dimaksudnya dengan ibadah ritual, maka dia menyebutkan seperti : shalat, puasa, zakat, dan haji. Itu sudah harga mati, katanya. Saya menyebutnya dengan ibadah mahdah (yang ritualnya telah dikhususkan : waktu dan caranya)

Saya tertarik dengan kata2 : ...kita bebas bermain [pada sisi selain dari itu]. Maksudnya tentu melakukan eksplorasi tanpa lagi perlu peduli dengan nash2 atau tuntunan dari Kitab dan/atau generasi sebelumnya.

Akal saja tidak cukup

Jujur, saya suka ’salut’ dengan beberapa pemikiran teman [liberal] seperti yg tersebut di atas. Bahkan di masa kecil dan dewasa kami [sesungguhnya] selalu aktif berdiskusi masalah2 ilmu-keIslaman, tentunya. Tapi kali ini kata2 ...kita bebas bermain [pada sisi selain dari itu] di atas, walau saya tafsir sendiri maksudnya, seperti ada yang belom plong.

Kenapa ?

Karena sampai sejauh ini saya tetap meyakini bahwa selain akal, kita juga punya hati dan ruh. Amalan2 kita jauh lebih mempengaruhi keyakinan dan kenyamanan kita ketimbang akal semata. Bahkan bukankah sebaiknya kita tetap melakukan satu amalan asal ada nash nya walau akal masih bertanya2, Itu untuk apa sih gunanya ?.

Lalu, bagaimana jadinya dengan teman2 yang memvonis dirinya untuk tidak shalat, tidak puasa dstnya, dengan argumen2 akal[2]an nya seperti di [paling] atas di atas.

Ketika saya sempat bertanya lagi,Apakah anda masih shalat ? Ia menjawab diplomatis,Oh, masalah shalat itu urusan saya dengan Tuhan. Bahkan katanya lagi dia merasa keikhlasannya terusik kalo mengiyakan keshalatannya.

Weleh, weleh, weleh bablas angine.

Ketika batas2 ruang antara simbolik dan substansi itu belum matang, kita mudah kebablasan jadinya.

Ihdinasysyirathalmustaqiim.

Amien.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post