Politik dan Kesucian (itu) (?)

28 Aug 2008

Untuk sekedar disebut suci kita tidak cukup hanya dengan berkata, Saya tak suka politik. Sungguh, tidak cukup. Bukankah ini malah menambah fakta, bahwa fenomena politik telah meng gelincir kan banyak orang.

( Etika apalagi agama , silahkan masuk, Ahlan wa sahlan !!!)

Begitulah

Keinginan suci adalah fitrah manusia, bahkan bukankah fitrah itu memang sering diasosiasikan dengan masalah kesucian, walaupun ini tidak cukup. Prilaku suci juga sering dikaitkan dengan para sufi, yaitu (konon) mereka yang mendekat pada Tuhan dengan cara uzlah, bergabung dengan tarekat atau yang semacamnya.

Ini bisa saja terinspirasi dari para nabi, yang selalu memulai dari mengasingkan diri. Dan hidayah memang sering datang dari kesunyian, maksudnya tentu kontemplasi (lebih tepat Tahajjud, istilah untuk di masa kita). Tetapi, akuilah, entah bagaimana, ada-ada saja pelaku sufi yang lupa daratan. Ibarat pelaut yang lupa mendarat, atau petapa yang tak hendak turun gunung. Ini tentu fenomena menarik untuk diperbincangkan.

Adalah rasulullah SAW pun melakukan pengasingan, di salah satu sudut kota Mekkah, gua Hira. Kita tentu sudah pada tahu, bahwa dari sanalah Al-Quran bermulai dan Islam kembali disyiarkan (kalimatnya, Islam kembali disyiarkan, bukan mulai disyiarkan, karena Islam sudah ada sejak Adam AS).

Inilah fakta tak terbantahkan, bahwa Rasulullah SAW pun memulai dari kesunyian. Mengasingkan diri dari keramaian, dan menjauh dari riuhnya pernik-pernik dunia kejahiliyahan. Banyak ahli tarikh menyatakan, situasinya mirip-mirip dengan warna zaman sekarang.

Sebagai rangkaian usaha menguak fenomena ini, menarik sekali apa yang pernah disimpul-indahkan oleh Anis Matta dalam Tarbawi Edisi 154 tahun ini (2007), seperti berikut :

bahwa ketenangan adalah syarat utama untuk menjadi manusia produktif. .ketenangan adalah cara menghemat energi, perenungan adalah cara menyerap energi, dan memberi adalah cara menyalurkan energi.

Cukup indah dan penuh makna.

Lalu memberi

Memberilah …

Kapan kita memberinya jika terlampau lama di penyerapan energi.

Terlibatlah di kehidupan nyata ini, tidak sekedar termenung dan berteriak di bilik-bilik yang dianggap suci.

Untuk sekedar disebut suci kita tidak cukup hanya dengan berkata, Saya tak suka politik. Sungguh, tidak cukup.

Perlu keterlibatan nyata. :)

Kotoran bukan untuk diteriaki, mari kita bersihkan.

Jangan biarkan politik dan kotorannya itu.



TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post