Politik Tuhan

Tuhanmu telah berpolitik untukmu

dengan

syariat-NYA, sunnah-NYA, hukum-hukum-NYA

hukum di alam-NYA

hukum di firman-NYA

hukum di setiap kejadian pada ruang dan waktu milik-NYA

Adalah keputusan-NYA, undang-undang-NYA,

sunnatuLlah - syariat-NYA

Lalu

terserah engkau memilih atau tidak

karena setiap pilihan langkah, adalah resiko.

Di atas Kekuatan Politik Tuhanmu

itu

Saksikan, Tuhanmu Itu pun Continue reading ‘Politik Tuhan’

Kemenangan ini, milik kita [bersama]

Kebanyakan kita cuma merasa berperan pada keberhasilan (kemenangan) saja, tetapi justru merasa (mengakunya) sebagai pengamat (pihak luar, oposisi, pengkritik, pelengkap penderita) kalau terjadi kegagalan.

Misal, bayangkan seperti ini :

Apa yang terjadi jika ummat ini (Islam) pada suatu ketika mengalami kemajuan yang cukup berarti. Berdasarkan logika di atas maka setiap kelompok dan pribadi sepertinya akan merasa lebih berperan. “Itu karena kami, yang itu karena saya“.

Sebaliknya, Continue reading ‘Kemenangan ini, milik kita [bersama]‘

Meta Hipokrit Politisi Kita

Meta hipokrit :

Orang yang benar-benar ‘baik’ itu tidak ada. Itu hanya ada pada kisah-kisah di kitab suci, hanya ada di omongan2 para ustadz/ulama/moralis, atau sekedar cerita yang didongengkan di masa kecil sebelum tidur, Katanya.

Apa itu meta hipokrit ?

Meta hipokrit [secara sepihak] melalui postingan ini dimaknai sebagai sebuah karakter yang selalu mengira bahwa kebaikan yang sebenarnya itu tidak ada pada prakteknya di kehidupan ini. Akibatnya tentu, orang2 seperti ini kbanyakan pun memang benar2 tidak mampu menerapkan nilai2 kbaikan itu di kehidupannya sendiri.

Ini pun merambah ke politisi kita.

“Tidak mungkin ada orang Lanjut baca

Islam : Antara simbol dan substansi

Edisi : Kembali 

Mencari irisan di antara dimensi simbol dan substansi

Dari dialog dengan seorang [pengaku] muslim [tapi] minus amal.

(1) Muslim minus shalat

Tanya : Kenapa anda meninggalkan shalat ?

Jawabnya : Karena substansi dari shalat adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ketika saya mampu mencegah diri saya dari perbuatan keji dan mungkar, maka untuk apa lagi saya shalat ? Bahkan saya menyaksikan mereka2 yang shalat kebanyakan tidak mampu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar tersebut ?

(2) Muslim minus shalat, lagi

Tanya : Kenapa anda meninggalkan shalat, bukankah Rasulullah mengajarkan kita untuk shalat ?

Jawabnya : Pernyataan anda sangat literal/tekstual kawan, substansi dari diutusnya rasulullah adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Waktu itu memang ada sebagian orang arab di Mekkah yang dianggap hanif (berakhlak baik) yg melakukan tradisi [ritual] shalat. Lalu antara tradisi shalat dan akhlak yang baik ini diasosiasikan sedemikian untuk mengarah ke target perbaikan akhlak tadi. Kalo dengan tanpa (simbol) shalat kita bisa menjamin memiliki akhlak yg baik, lalu kenapa simbol-simbol masa lalu itu yang lebih dipertahankan ?

(3) Muslimah minus jilbab

Tanya : Kenapa anda sebagai muslimah tidak berjilbab ? Bukankah Al Qur’an mengajarkan anda untuk menutup aurat di hadapan muhrimnya ?

Jawabnya : Jika dieksplor lebih jauh sesungguhnya substansi dari kewajiban menutup aurat dari al qur’an sendiri adalah agar [muslimah] lebih mudah dikenal [sebagai identitas] dan dapat menjaga diri. Di jaman sekarang masalah identitas dan penjagaan diri itu sudah tidak relevan lagi. Apalagi jilbab itu kan kebiasaan kaum wanita di arab sana.

Konsekuensi logis Continue reading ‘Islam : Antara simbol dan substansi’

Politik dan Kesucian (itu) (?)

Untuk sekedar disebut ‘suci’ kita tidak cukup hanya dengan berkata, “Saya tak suka politik”. Sungguh, tidak cukup. Bukankah ini ‘malah’ menambah ‘fakta’, bahwa fenomena politik telah meng ‘gelincir’ kan banyak orang.

( “Etika” apalagi “agama” …, silahkan masuk, Ahlan wa sahlan !!!)

Begitulah …

Keinginan ‘suci’ adalah fitrah manusia, bahkan bukankah fitrah itu memang sering diasosiasikan dengan masalah ‘kesucian’, walaupun ini tidak cukup. Prilaku suci juga sering dikaitkan dengan para ‘sufi’, yaitu (konon) mereka yang mendekat pada Tuhan dengan cara ‘uzlah’, bergabung dengan tarekat atau yang semacamnya.

Ini bisa saja terinspirasi dari para nabi, Continue reading ‘Politik dan Kesucian (itu) (?)’

Gunjing-hasut YES, Politik NO (?)

27 April, 2007 oleh Herianto

Beberapa wacana terdahulu yang berkaitan dengan tema kali ini adalah, seperti : Islam Yes  Politik No, yang digulirkan oleh (alm) Nurcholis Madjid, lalu kemudian dijawab oleh sejumlah aktivis gerakan Islam dengan slogan : Islam Yes – Politik Yes. Di lapangan sesungguhnya terjadi juga prilaku yang mencerminkan penerapan slogan : Gunjing-hasut Yes Politik No yang semestinya kita jawab dengan slogan : Gunjing-hasut NO, Politik why NOT.

— 

Begini,

Tak ada kita yang sudi disebut sebagai peng-gunjing atau peng-hasut, walau karakter ini kadang-kadang menjadi menu dan hidangan keseharian di sekitar kita, bahkan bisa saja itu kita sendiri (semoga tidak). Barangkali  jika dianalisa lebih lanjut karakter ini kebanyakan terjadi akibat kelemahan kita dalam menerapkan konsep manajemen ‘ber-prasangka’ secara benar dan profesional (ihsan). Padahal dari manajemen ‘ber-prasangka’ yang tidak benar tersebut jika di follow-up ke aktivitas pergunjingan dapat mengakibatkan ’mengalirnya’ dosa si ‘teraniaya’ ke pihak pelaku untrue-prasangka (su’udzon) dan ghibah-er (peng-ghibah) tersebut. Bagaimana kita tahu kalo Continue reading ‘Gunjing-hasut YES, Politik NO (?)’

Meta Politik

Ada teman yang cerita tentang istilah “Meta luka” yang ia terjemahkan dengan “luka di atas luka”. “Bisa dibayangkan…”, katanya, “Luka dikulit yang belum sembuh lalu digores lagi dengan luka baru tepat di atas luka itu, betapa sakitnya”. Gak kebayangkan ? Ok, kita lupakan aja tentang “Meta Luka”. Pedih…

Lepas dari  ”Meta Luka” adalagi Continue reading ‘Meta Politik’


 

Januari 2012
S S R K J S M
« Jan    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Statistik