Edisi : Kembali
—
Mencari irisan di antara dimensi simbol dan substansi
Dari dialog dengan seorang [pengaku] muslim [tapi] minus amal.
(1) Muslim minus shalat
Tanya : Kenapa anda meninggalkan shalat ?
Jawabnya : Karena substansi dari shalat adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ketika saya mampu mencegah diri saya dari perbuatan keji dan mungkar, maka untuk apa lagi saya shalat ? Bahkan saya menyaksikan mereka2 yang shalat kebanyakan tidak mampu mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar tersebut ?
(2) Muslim minus shalat, lagi
Tanya : Kenapa anda meninggalkan shalat, bukankah Rasulullah mengajarkan kita untuk shalat ?
Jawabnya : Pernyataan anda sangat literal/tekstual kawan, substansi dari diutusnya rasulullah adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Waktu itu memang ada sebagian orang arab di Mekkah yang dianggap hanif (berakhlak baik) yg melakukan tradisi [ritual] shalat. Lalu antara tradisi shalat dan akhlak yang baik ini diasosiasikan sedemikian untuk mengarah ke target perbaikan akhlak tadi. Kalo dengan tanpa (simbol) shalat kita bisa menjamin memiliki akhlak yg baik, lalu kenapa simbol-simbol masa lalu itu yang lebih dipertahankan ?
(3) Muslimah minus jilbab
Tanya : Kenapa anda sebagai muslimah tidak berjilbab ? Bukankah Al Qur’an mengajarkan anda untuk menutup aurat di hadapan muhrimnya ?
Jawabnya : Jika dieksplor lebih jauh sesungguhnya substansi dari kewajiban menutup aurat dari al qur’an sendiri adalah agar [muslimah] lebih mudah dikenal [sebagai identitas] dan dapat menjaga diri. Di jaman sekarang masalah identitas dan penjagaan diri itu sudah tidak relevan lagi. Apalagi jilbab itu kan kebiasaan kaum wanita di arab sana.
—
Konsekuensi logis Continue reading ‘Islam : Antara simbol dan substansi’
Komentar Terakhir